80 Tahun Mengabdi Untuk Negeri: Kisah Kapolsek Lembor Selamatkan Masa Depan Anak Buruh Tani
Tribratanewsmanggaraibarat.com — Labuan Bajo, Air mata Vikianus Jemadu (14) pecah dua tahun silam. Saat itu, tahun 2024, ia baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasar (SD). Namun, alih-alih bersiap mengenakan seragam putih-biru, impiannya untuk melanjutkan sekolah terancam pupus akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Sang ayah, Alfonsius Jemadu (45), masih ingat betul momen memilukan ketika putra ketiganya itu menangis meratapi nasibnya yang nyaris putus sekolah.
Sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu, Alfonsius mengaku tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan Viki. Beban ekonominya terlampau berat demi menghidupi istri serta keempat anaknya.
"Kami tidak mampu. Ada kakaknya dua orang di bangku SMA yang juga harus kami biayai," ungkap Alfonsius dengan nada lirih saat ditemui pada Rabu (1/7/2026).
Selama tidak bersekolah, Viki tidak tinggal diam meratapi nasib. Remaja tersebut kerap menghabiskan harinya menyusuri jalanan untuk mencari besi tua. Barang bekas yang ia kumpulkan kemudian ditimbang, dijual, dan sebagian hasilnya selalu ia serahkan kepada sang ibu demi membantu dapur tetap mengepul.
Di balik peluh keringatnya mencari besi tua, Viki menyimpan dua impian besar: kembali ke bangku sekolah dan mengejar hobinya bermain sepak bola. Namun, mimpi tersebut harus tersimpan rapat di dalam laci kemiskinan. Alfonsius bahkan tak mampu mendaftarkan anaknya ke sekolah menengah pertama (SMP), apalagi membelikannya perlengkapan olahraga.
Titik Balik di Kantor Polisi
Titik terang dalam hidup Viki akhirnya datang melalui sebuah pertemuan tak terduga. Seseorang anggota polisi meminta Alfonsius untuk datang ke Polsek Lembor guna menemui sang Kapolsek, IPDA Vinsensius Hardi Bagus, S.I.P.
"Saya bawa dengan Viki. Beliau (Kapolsek) tanya, apakah Viki niat sekolah? Saya jawab 'iya'," kenang Alfonsius.
Pertemuan sederhana itu menjadi babak baru bagi kehidupan Viki. IPDA Vinsen memutuskan untuk mengambil alih seluruh tanggung jawab pembiayaan sekolah Viki sejak ia menginjak bangku kelas VII SMP.
Ditemui di Mako Polres Manggarai Barat di sela-sela seremoni Hari Bhayangkara ke-80 di Labuan Bajo, IPDA Vinsen, yang didampingi istrinya Flaviana Odety, membenarkan kisah tersebut.
"Waktu mendengar dia masih punya niat kuat untuk sekolah, langsung kami urus. Saya panggil kedua orang tuanya dan sampaikan maksud kami membiayai dan mengurus pendaftaran ke sekolah yang dia mau," tutur perwira polisi yang kini menjabat sebagai Kapolsek Lembor tersebut.
Perjalanan Viki menuntut ilmu tidak langsung berjalan mulus secara logistik. Awalnya, ia bersekolah di SMPN 4 Welak. Karena jarak sekolah ke Polsek Lembor cukup jauh, Viki dititipkan sementara untuk tinggal di rumah salah satu anggota Bhabinkamtibmas.
"Saat itu sudah pertengahan semester. Lalu saat naik ke kelas VIII, dia pindah ke SMPN 1 Lembor dan tinggal bersama saya di Polsek," jelas Vinsen.
Lebih dari Sekadar Biaya Sekolah
Dukungan yang diberikan keluarga IPDA Vinsen rupanya tidak setengah-setengah. Mereka tidak hanya memastikan biaya pendidikan Viki terpenuhi, tetapi juga mendukung hobi dan potensi non-akademisnya. Mengetahui minat besar Viki di lapangan hijau, Vinsen membelikannya perlengkapan sepak bola yang layak agar ia dapat berpartisipasi dalam turnamen antar-sekolah.
Bagi Vinsen, keputusan mengasuh dan menyekolahkan anak buruh tani ini murni didasari oleh empati kemanusiaan yang mendalam.
"Ini panggilan hati dan nurani. Ketika melihat ada anak yang berniat sekolah tetapi dibatasi oleh kondisi ekonomi orang tua, rasanya kita terpanggil. Selagi kami bisa bantu, kami akan bantu," tegas ayah tiga anak tersebut.
Perubahan Positif
Perubahan positif pun mulai terlihat nyata pada diri Viki. Flaviana Odety, istri IPDA Vinsen yang juga seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Manggarai Barat, menceritakan perkembangan karakter remaja tersebut sejak tinggal bersama mereka.
Menurut Flaviana, Viki kini tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih disiplin, sopan, jujur, dan rajin bersekolah. Tantangan awal yang mereka hadapi justru terletak pada aspek komunikasi.
"Kendala awalnya memang pada komunikasi. Viki biasa menggunakan bahasa daerah, jadi kami biasakan menggunakan Bahasa Indonesia di rumah dan saat berbicara dengannya," tutur Flaviana.
Selain melatih kemampuan berbahasa, pasangan suami-istri ini juga membimbing moral dan menata keseharian Viki agar lebih teratur. Di waktu senggangnya, Viki kerap dilibatkan untuk menemani berbagai aktivitas kedinasan maupun sosial IPDA Vinsen.
Kedekatan emosional yang terjalin selama dua tahun terakhir membuat Viki sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri. Rasa nyaman dan aman itu tecermin dari keinginannya untuk terus ikut ke mana pun IPDA Vinsen ditugaskan kelak.
"Misalnya nanti bapak pindah tugas, Viki juga mau ikut. Kalau orang tuanya mengizinkan, untuk saat ini kami juga siap membiayai untuk pendidikan selanjutnya nanti," pungas Flaviana optimistis.**#
Humas Polres Manggarai Barat

