Gema Liturgi dari Korps Bhayangkara: Kala Seragam Polisi Menyatu dengan Doa di Kapela St. Damian
Tribratanewsmanggaraibarat.com-Labuan Bajo - Suasana khidmat menyelimuti Kapela St. Damian Binongko, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT pada Minggu pagi (15/3/2026).
Di bawah langit Manggarai Barat yang teduh pada masa Prapaskah keempat, deru mesin kendaraan dinas kepolisian tidak membawa sirene peringatan, melainkan membawa sekelompok personel yang siap melayani dengan cara yang tidak biasa: melalui jalur spiritualitas.
Sekitar 150 umat, termasuk para penghuni panti rehabilitasi penyakit kusta dan cacat, menjadi saksi bagaimana ketegasan seragam Polri bersanding harmonis dengan kelembutan tata gerak liturgi.
Personel Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat mengambil peran sentral dalam Perayaan Ekaristi tersebut, mulai dari pembaca firman hingga pengisi paduan suara.
*Harmoni di Balik Seragam*
Tepat pukul 08.00 Wita, misa dimulai. Pater Adam Huler, SVD, melangkah menuju altar, diikuti oleh para petugas liturgi dari unsur kepolisian.
Ketegangan yang biasanya melekat pada citra aparat seketika mencair saat Aipda Yustina Oro dengan langkah tenang menuju mimbar untuk membawakan Bacaan Pertama. Suaranya yang mantap kemudian disusul oleh kelantangan Bripda Tiara Bugis saat menyuarakan Bacaan Kedua.
Di sudut lain, jemari Aipda Yoris Kedhi menari di atas tuts organ, mengawal harmoni lagu-lagu pujian bersama pemazmur Ibu I’in Cangkung dan dirigen Fr. Firman Sony.
Gema paduan suara Polres Mabar bukan sekadar pengisi kekosongan ruang, melainkan jembatan penghiburan bagi para penghuni panti rehabilitasi yang hadir.
Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan bagian dari strategi "pendekatan hati" (soft approach) untuk meruntuhkan sekat antara aparat dan masyarakat.
"Kami ingin menunjukkan bahwa polisi adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Melalui pujian dan lagu liturgi ini, kami merajut sinergitas yang lebih dalam, tidak hanya secara profesional tetapi juga spiritual. Ini adalah bentuk pengabdian kami kepada Tuhan sekaligus kepada sesama," tegas AKBP Christian Kadang usai kegiatan.
*Menajamkan Nurani melalui Ibadah*
Bagi AKBP Christian, integritas seorang anggota Polri tidak hanya diuji di lapangan atau dalam penegakan hukum, tetapi juga ditempa melalui penguatan moral di rumah ibadah. Ia percaya bahwa nurani yang tajam akan melahirkan pelayanan yang lebih humanis.
"Disiplin di lapangan harus dibarengi dengan ketajaman nurani. Dengan terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti ini, personel kami diingatkan untuk selalu melayani dengan hati yang tulus. Kami ingin hadir bukan sebagai sosok yang ditakuti, melainkan sebagai saudara yang mengayomi," tambahnya dengan nada humanis.
Keterlibatan ini memiliki makna ganda di Kapela St. Damian. Mengingat lokasinya yang menyatu dengan pusat rehabilitasi kusta dan disabilitas, kehadiran Polri membawa pesan inklusivitas—bahwa negara hadir untuk merangkul setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
*Apresiasi dari Balik Altar*
Langkah inovatif ini pun menuai pujian dari pihak gereja. Pater Adam Huler, SVD, mengaku terkesan dengan dedikasi para personel kepolisian yang bersedia meluangkan waktu untuk bertugas di altar.
"Kehadiran bapak dan ibu dari kepolisian sebagai petugas liturgi memberikan warna tersendiri. Ini membuktikan bahwa tugas melayani tidak hanya dilakukan di jalan raya atau kantor, tetapi juga bisa dimulai dari dalam gereja melalui doa bersama umat," ungkap Pater Adam dalam pesan pastoralnya.
Misa berakhir tepat pukul 09.00 Wita. Saat umat berangsur meninggalkan kapela, kesan yang tertinggal bukan lagi tentang otoritas kepolisian yang kaku, melainkan tentang wajah Korps Bhayangkara yang rendah hati—yang percaya bahwa di hadapan Sang Pencipta, semua adalah pelayan bagi sesama.**#
Humas Polres Manggarai Barat

