Sinergi Polsek Sano Nggoang dan Pengelola Wisata Wae Lolos Jamin Keselamatan Wisatawan
Tribratanewsmanggaraibarat.com-Labuan Bajo - Memori kelam musibah fatal di Air Terjun Cunca Wulang beberapa waktu lalu menjadi alarm keras bagi sektor pariwisata di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Enggan kecelakaan serupa terulang, aparat kepolisian bersama masyarakat bergerak cepat menggalakkan langkah preventif guna menjamin keselamatan para pelancong di destinasi wisata alam.
Langkah konkret ini diwujudkan lewat inspeksi keselamatan mendadak (sidak) yang digelar oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Sano Nggoang, Polres Manggarai Barat.
Aparat kepolisian bersama pihak pengelola turun langsung memeriksa kelaikan fasilitas pendukung di Objek Wisata Seribu Air Terjun yang terletak di Kampung Langgo, Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (29/5/2026).
Monitoring intensif yang berlangsung selama lebih dari dua jam, mulai pukul 11.30 hingga 13.40 Wita ini, dihadiri langsung oleh Kapolsek Sano Nggoang IPDA Risbel Pandiangan, S.IP. Turut mendampingi dalam sidak tersebut Kanit Binmas Aipda As'ary serta Ketua Kelompok Pengelola Wisata, Robert Perkasa.
*Keselamatan Wisatawan adalah Harga Mati*
Kapolsek Sano Nggoang, IPDA Risbel Pandiangan menegaskan bahwa aspek keselamatan (safety) dan keamanan (security) wisatawan—baik domestik maupun mancanegara—merupakan prioritas mutlak yang tidak boleh ditawar dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis alam.
Dalam inspeksi tersebut, petugas menyusuri jalur trekking yang terjal, serta menguji langsung kelayakan fisik tangga dan jembatan kayu yang menjadi akses utama para pelancong untuk naik-turun di kawasan air terjun.
Berdasarkan hasil inspeksi, kondisi sarana di lokasi terpantau cukup baik dan aman. Pihak pengelola juga selalu melakukan penggantian jembatan kayu secara berkala apabila ditemukan bagian yang mulai rusak.
"Langkah ini merupakan bentuk evaluasi preventif sekaligus komitmen Harkamtibmas kami di objek vital dan destinasi wisata," ujar IPDA Risbel di sela-sela pengecekan fisik jembatan penyeberangan.
Ia menekankan pentingnya belajar dari masa lalu.
"Kita tidak ingin musibah masa lalu di Cunca Wulang terulang kembali di sini. Aspek safety dan security harus menjadi prioritas paling utama," imbuhnya tegas.
Lebih lanjut, IPDA Risbel mengimbau pihak pengelola untuk melakukan pemeliharaan rutin tanpa harus menunggu adanya kerusakan fasilitas yang parah. Baginya, deteksi dini kerusakan infrastruktur penunjang adalah kunci utama untuk mewujudkan nihil kecelakaan (zero accident).
"Infrastruktur kayu di alam terbuka sangat rentan terhadap pelapukan akibat cuaca yang berubah-ubah. Kami menyarankan pengelola untuk menjadwalkan pemeriksaan kekuatan struktur jembatan dan tangga ini secara rutin setiap hari, sebelum jam operasional dibuka," saran Pak Risbel.
*Komitmen Pengelola Menjaga Rekor Zero Accident*
Menanggapi asistensi keamanan dari pihak kepolisian, Ketua Kelompok Pengelola Wisata Seribu Air Terjun, Robert Perkasa, menyambut baik langkah tersebut. Pihaknya mengaku terus berbenah secara swadaya demi memastikan kenyamanan para pelancong yang terus berdatangan ke Desa Wae Lolos.
"Kami sangat berterima kasih atas perhatian langsung dari Bapak Kapolsek. Dalam tiga hari terakhir, kami memang sedang aktif melakukan perbaikan intensif pada beberapa titik tangga dan jembatan yang mulai aus. Semua ini kami kerjakan secara gotong royong dan mandiri oleh kelompok pengelola," ungkap Robert Perkasa.
Komitmen ini bukan tanpa alasan. Hingga saat ini, objek wisata yang beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 Wita tersebut masih memegang rekor bersih tanpa kecelakaan sejak pertama kali diresmikan.
"Puji Tuhan, sejak pertama kali dibuka hingga hari ini, kami masih mampu menjaga status zero accident. Kami ingin para wisatawan pulang dengan membawa kenangan indah, bukan membawa luka," kata Robert optimistis.
*Berdayakan 30 Pemandu Lokal*
Selain berfokus pada perbaikan infrastruktur fisik, manajemen keselamatan di Seribu Air Terjun juga diperkuat oleh keterlibatan aktif masyarakat lokal.
Saat ini, terdapat sedikitnya 30 pemandu wisata lokal (local guide) binaan setempat yang bersiaga mengawal mobilitas para pelancong di medan air terjun yang menantang.
"Pemberdayaan warga lokal adalah kunci. Ke-30 pemandu kami bagi ke dalam delapan regu kerja yang bertugas secara bergilir. Mereka bertugas mendampingi setiap rombongan agar tidak mengambil rute berbahaya," jelas Robert, yang saat itu didampingi oleh Wakil Ketua Pokdarwis, Maksi Hambur dan Bendahara, Abdul Samsur
Berdasarkan pantauan di lapangan selama proses monitoring berlangsung, denyut pariwisata di Seribu Air Terjun terpantau cukup bergairah.
Kurang lebih ada sekitar 80 wisatawan domestik dan mancanegara yang tengah menikmati eksotisme alam Wae Lolos. Mereka menjelajahi kawasan tersebut dengan pengawalan ketat dari para pemandu lokal, sembari dipantau secara berkala oleh aparat kepolisian setempat yang berjaga di lokasi.**#
Humas Polres Manggarai Barat

