Kembalikan Ceria Pasca-Gempa, Polri Gelar Layanan Trauma Healing Bagi Penghuni Asrama di Labuan Bajo
Tribratanewsmanggaraibarat.com — Labuan Bajo, Dua pekan sudah berlalu sejak gempa bumi menguncang bumi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun bagi puluhan anak penghuni Asrama Biata Maria Helena Stollenwerk Labuan Bajo, guncangan itu seakan belum sepenuhnya usai.
Rasa cemas dan ketakutan akan potensi gempa susulan masih terus membayangi, memaksa mereka menjadikan tenda darurat milik Polri di halaman asrama sebagai rumah perlindungan sementara.
Kondisi tersebut kian memprihatinkan karena sebagian besar dari mereka tinggal jauh dari sanak saudara, bahkan beberapa di antaranya merupakan anak yatim piatu. Di bawah bentangan terpal biru, mereka berhari-hari menahan cemas dan enggan menginjakkan kaki kembali ke dalam bangunan permanen.
Namun, keheningan di area pengungsian itu pecah saat gelak tawa kembali terdengar riuh pada Sabtu (29/8/2026) sore.
Hilangkan Jenuh Lewat "Patroli Edukatif"
Sekitar pukul 16.00 WITA, kedatangan jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas), Satuan Binmas, Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Manggarai Barat bersama BKO Tim Psikologi Polda Jawa Tengah (Jateng) menyuntikkan energi baru bagi anak-anak asrama.
Suasana kaku berangsur cair saat Tim Psikologi dan Satbinmas melancarkan pendekatan dialogis nan humanis. Anak-anak diajak bernyanyi, bermain gim ketangkasan kelompok, hingga mengikuti sesi konseling ringan.
Suasana kian meriah ketika personel Satlantas membagikan edukasi tertib lalu lintas secara interaktif yang dilanjutkan dengan agenda "Patroli Edukatif". Anak-anak diajak menaiki kendaraan operasional dinas kepolisian untuk mengelilingi sudut-sudut Kota Labuan Bajo—sebuah pengalaman sederhana yang berhasil mengalihkan pikiran mereka dari ketakutan.
Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menegaskan bahwa anak-anak panti dan asrama membutuhkan perhatian psikologis ekstra pascabencana karena tidak hadirnya pendampingan langsung dari orang tua.
"Anak-anak ini berada jauh dari keluarga, bahkan ada yang sudah yatim piatu. Trauma akibat gempa bumi membuat mereka masih takut untuk kembali beraktivitas maupun tidur di dalam gedung permanen," ujar AKBP Christian saat dikonfirmasi pada Minggu (30/8) pagi.
AKBP Christian menjelaskan bahwa ajakan berkeliling kota menggunakan mobil patroli dinas sengaja dirancang untuk memulihkan kondisi emosional anak-anak.
"Kegiatan patroli keliling kota sengaja kami rancang untuk memberikan suasana baru dan menghilangkan kejenuhan para siswa selama berminggu-minggu berada di area pengungsian," tuturnya.
"Kehadiran kami di sini adalah bentuk pengayoman dan kehadiran negara untuk memastikan mereka tidak merasa sendiri, mengembalikan rasa aman, serta mengukir kembali senyum keceriaan mereka," tambah Kapolres penuh hangat.
Pemantauan Kesehatan Gratis dan Bantuan Logistik
Tak hanya menyentuh aspek psikologis, kesehatan fisik para siswa dan pengurus asrama juga menjadi perhatian utama. Menjelang senja, tim Sidokkes Polres Manggarai Barat mendirikan posko pelayanan kesehatan gratis di lokasi pengungsian.
Petugas medis secara cermat melakukan pemeriksaan tekanan darah guna mengantisipasi penurunan kondisi fisik pengungsi akibat berkegiatan di dalam tenda.
"Selain pendampingan psikologis, kami juga menggelar pemeriksaan kesehatan guna memantau dan memastikan kondisi fisik mereka tetap terjaga," terang AKBP Christian.
Rangkaian aksi kemanusiaan tersebut ditutup pada pukul 17.45 WITA melalui pembagian paket logistik sembako, pembagian vitamin harian, serta doa bersama.
"Kami juga menyalurkan bantuan sembako dan obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka selama masih tinggal di tenda darurat," katanya.
Suster Kepala Asrama Biata Maria Helena Stollenwerk, Sr. Tatiana Tatu Wadang, SSpS. menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan bantuan beruntun yang diberikan oleh aparat kepolisian.
"Atas nama anak-anak Asrama Biata Maria Helena Stollenwerk, saya mengucapkan terima kasih kepada Polri, dan secara khusus Polres Manggarai Barat, yang sudah memberikan pendampingan trauma healing untuk anak-anak yang selama ini menjadi korban dan merasa takut terhadap bencana ini," ungkapnya.
"Terima kasih hari ini sudah memberikan hiburan, melaksanakan kegiatan di sini bersama anak-anak, serta memberikan bantuan untuk kami semua. Sekali lagi, terima kasih," sambung Sr. Tati sapaan akrabnya.
Sebagai langkah jangka panjang dalam masa transisi pemulihan, Polres Manggarai Barat berkomitmen untuk tidak melepas pengawasan begitu saja.
Pihaknya merencanakan pemantauan berkala (monitoring visit) ke Asrama Biata Maria Helena Stollenwerk serta rutin mengecek kelayakan fasilitas tenda darurat guna mengantisipasi dinamika perubahan cuaca.**#
Humas Polres Manggarai Barat

