Polisi Bersama Masyarakat Evakuasi Korban Hanyut di Sungai Wae Damar

Polisi Bersama Masyarakat Evakuasi Korban Hanyut di Sungai Wae Damar

Tribratanewsmanggaraibarat.com–Labuan Bajo - Suasana tenang di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat berubah menjadi mencekam pada Selasa (24/2/2026) petang. Sepasang suami istri, Pius Pion (50) dan Bertiana Hadia (50), dilaporkan hanyut terseret arus deras Sungai Wae Damar saat hendak pulang dari sawah.

Beruntung, meski sempat terbawa arus sejauh puluhan meter, nyawa Bertiana berhasil diselamatkan setelah upaya pencarian dramatis oleh warga dan aparat kepolisian.

Kronologi Kejadian: Bergandengan Tangan Melawan Banjir

Peristiwa bermula sekitar pukul 18.20 Wita. Pasangan petani asal Kampung Nobo ini baru saja menyelesaikan pekerjaan di persawahan Wae Kantor. Untuk mencapai rumah, mereka harus melintasi Sungai Wae Damar yang saat itu sedang meluap akibat hujan deras.

Kondisi jembatan bambu darurat yang biasanya menjadi akses utama pun sudah terendam luapan air. Meski berbahaya, keduanya memutuskan untuk tetap menyeberang dengan cara bergandengan tangan agar tidak goyah diterjang arus.

"Saat itu mereka sedang menyeberang sambil berpegangan tangan. Namun, karena arus sungai sangat kuat menyentuh jembatan, sang istri terpeleset. Sang suami yang berusaha menahan pun ikut tertarik dan keduanya jatuh ke sungai," ujar Kapolsek Sano Nggoang, Ipda Risbel Pandiangan, S.IP., saat dikonfirmasi, Rabu (25/2/2026) pagi.

Pius Pion berhasil menyelamatkan diri dengan melawan arus hingga mencapai tepi sungai. Namun, ia harus menyaksikan istrinya, Bertiana, hilang ditelan kegelapan dan derasnya air sungai yang sedang banjir.

"Saat kejadian arus memang sangat deras karena banjir. Saudara Pius berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri, namun istrinya hanyut terbawa arus di depan matanya sendiri," tuturnya.

Aksi Heroik dan Pencarian Warga

Tanpa membuang waktu, Pius berlari sekuat tenaga sejauh satu kilometer menuju perkampungan untuk meminta bantuan. Dalam waktu singkat, warga Kampung Nobo berhamburan menuju sungai sambil membawa peralatan seadanya dan memanggil-manggil nama korban di sepanjang bantaran.

"Mendengar teriakan Saudara Pius, warga sekitar segera berdatangan untuk membantu upaya proses pencarian korban," papar Inspektur polisi dua itu.

Setelah hampir 40 menit melakukan pencarian di tengah kegelapan malam, sekitar pukul 19.00 Wita, warga akhirnya menemukan Bertiana. Korban ditemukan sekitar 70 meter dari lokasi awal ia terjatuh.

Keajaiban terjadi, Bertiana ditemukan dalam keadaan masih bernapas, meski sekujur tubuhnya dipenuhi luka memar akibat benturan material sungai saat terseret arus.

"Korban (Bertiana Hadia) ditemukan dalam kondisi lemas dengan luka memar di sekujur tubuh akibat benturan batu sungai. Namun, kami sangat bersyukur beliau ditemukan dalam keadaan hidup," jelas Ipda Risbel Pandiangan.

Evakuasi dan Penanganan Medis

Proses evakuasi berlangsung haru. Polisi bersama warga menggotong Bertiana menuju rumahnya di Kampung Nobo sebelum akhirnya diputuskan untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.

Pada pukul 20.35 Wita, Bertiana dibawa menggunakan ambulans menuju RSUD Pratama Komodo dengan pengawalan langsung dari jajaran Polsek Sano Nggoang.

"Kami memastikan korban mendapatkan penanganan medis yang maksimal. Saat ini korban sudah berada di RSUD Pratama Komodo untuk perawatan lebih lanjut," ungkap Ipda Risbel.

"Kini, kondisi Bertiana dilaporkan mulai stabil namun masih dalam observasi intensif tim medis akibat luka trauma dan benturan yang dialaminya," sambungnya.

Imbauan Cuaca Ekstrem

Usai kejadian itu, Ipda Risbel memberikan imbauan keras kepada masyarakat agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Cuaca ekstrem di wilayah Manggarai Barat menuntut kewaspadaan tinggi, terutama bagi para petani.

"Utamakan keselamatan jiwa. Jangan memaksakan diri menyeberangi sungai saat banjir melanda, apalagi saat hari mulai gelap. Nyawa tidak bisa ditukar dengan apapun," tegas Kapolsek Sano Nggoang menutup keterangannya.**#