Meniti Asa di Atas Wae Songkang: Kala Polisi Hadir Lewat Jembatan Merah Putih

Meniti Asa di Atas Wae Songkang: Kala Polisi Hadir Lewat Jembatan Merah Putih

Tribratanewsmanggaraibarat.com-Labuan Bajo - Bagi 21 pasang kaki kecil di Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, sekolah bukan sekadar urusan buku dan pensil. Selama bertahun-tahun, perjalanan menuntut ilmu adalah pertaruhan nyawa.

Setiap pagi, 11 siswa SD dan 10 siswa SMP harus menantang maut, menyingsingkan celana, dan menerjang derasnya arus Sungai Wae Songkang demi mencapai ruang kelas di Kecamatan Kuwus Barat.

Namun, mendung kecemasan yang selama ini menggelayuti wajah para orang tua di pelosok Manggarai Barat itu kini perlahan tersingkap. Senyum lega mulai merekah seiring selesainya pembangunan jembatan penyeberangan darurat yang kini berdiri kokoh membelah sungai sepanjang 20 meter tersebut.

Pada Rabu (4/2/2026) lalu, janji itu akhirnya tertunaikan. Aparat kepolisian dari Polsek Kuwus berhasil merampungkan struktur yang mereka namakan "Jembatan Merah Putih".

Pembangunan ini bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan respons cepat atas instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang akses pendidikannya terhambat oleh infrastruktur.

"Kami telah menyelesaikan pembangunan jembatan darurat yang diperuntukkan bagi mobilitas siswa maupun masyarakat Kampung Lesem. Jembatan tersebut kami beri nama Jembatan Merah Putih," ujar Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar, saat dikonfirmasi pada Minggu (8/2) siang.

*Sinergi Tanpa Batas Wilayah*

Secara administratif, Sungai Wae Songkang adalah pembatas alami antara Kecamatan Pacar dan Kecamatan Kuwus Barat. Namun, bagi IPTU Arsi—yang akrab disapa Pak Arsi—garis birokrasi tidak boleh menjadi penghalang ketika nyawa anak-anak menjadi taruhannya.

Langkah darurat ini diambil setelah aspirasi dari para guru dan orang tua memuncak pada pertemuan warga 28 Januari lalu. Mereka tidak ingin lagi melihat anak-anak bertaruh nyawa di sungai yang debit airnya bisa meningkat drastis secara tiba-tiba saat musim hujan.

"Keputusan ini diambil demi keselamatan para pelajar yang setiap harinya harus menerjang arus sungai untuk mencapai sekolah mereka di SDK Wetik dan SMPN 1 Kuwus Barat," tutur Pak Arsi dengan nada tegas.

Bagi kepolisian, ini adalah bentuk kehadiran negara di titik paling krusial.

"Ini adalah respons cepat kami atas keresahan masyarakat. Kami tidak ingin ada korban jiwa hanya karena mereka ingin menuntut ilmu. Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama," tambahnya.

*Gotong Royong Material Lokal*

Pemandangan di lokasi pembangunan sejak Senin (2/2) menjadi bukti nyata kekuatan lonto leok (musyawarah) dan gotong royong. Tanpa menunggu kucuran anggaran formal yang kerap memakan waktu panjang, warga bahu-membahu bersama personel Polri dan TNI dari Koramil 1630/03 Macang Pacar.

Suara kapak dan gergaji bersahutan. Material lokal seperti bambu, kayu, dan pasir dikumpulkan langsung dari hutan dan kebun warga secara swadaya. Semangatnya satu: jembatan harus segera berdiri sebelum hujan besar kembali datang.

"Kami menggunakan material swadaya masyarakat sebagai bentuk kepemilikan bersama atas jembatan ini. Harapannya, mereka juga akan bersama-sama menjaganya," jelas Pak Arsi.

Imbauan di Tengah Musim Hujan

Meski Jembatan Merah Putih sudah bisa dilintasi, kewaspadaan tidak boleh kendur. Mengingat cuaca ekstrem yang masih melanda wilayah NTT, pihak kepolisian tetap memberikan imbauan keras kepada para siswa dan orang tua.

"Demi keselamatan, para siswa disarankan menginap sementara di rumah kerabat atau rekan di Desa Golo Riwu jika hujan lebat turun. Kita harus menghindari risiko menyeberangi sungai saat arus sedang kencang, meski sudah ada jembatan darurat," imbaunya.

Kini, bagi warga Golo Lajang, rakitan bambu dan kayu itu bukan sekadar alat penyeberangan. Ia adalah jembatan harapan—sebuah bukti bahwa di pelosok terdalam sekalipun, masa depan generasi bangsa tidak dibiarkan berjuang sendirian melawan arus.**#